EJABERITA.CO | Sampang – Penyakit menular berbahaya seperti Campak menjadi perhatian serius di Kabupaten Sampang. Hingga awal April 2026, tercatat sebanyak 90 kasus tersebar di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data dari 22 puskesmas di Kabupaten Sampang, terdapat tiga wilayah dengan kasus tertinggi, yakni Puskesmas Tambelangan, Banyuanyar, dan Robatal, masing-masing mencatat 12 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes KB Sampang, Syamsul Hidayat, melalui Ketua Tim Survei Imunisasi, Laili Nafila, menjelaskan bahwa puluhan kasus tersebut berasal dari 11 kecamatan yang terindikasi Campak.
“Kecuali Puskesmas Tamberuh dan Bunten Barat yang tidak melaporkan,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Laili juga membenarkan adanya laporan pasien meninggal dunia akibat Campak. Namun, pasien tersebut bukan berdomisili di Sampang saat sakit, melainkan tertular saat berada di Jakarta.
“Pasien ini warga Sampang asal Kecamatan Kedungdung. Namun, yang bersangkutan sudah sakit sejak di Jakarta dan saat mudik langsung dibawa ke rumah sakit tanpa sempat pulang,” jelasnya.
Ia menambahkan, penularan Campak terjadi melalui kontak langsung dengan penderita, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Menurutnya, salah satu faktor utama tingginya kasus adalah rendahnya cakupan imunisasi di masyarakat, sehingga meningkatkan risiko penularan.
“Penderita Campak umumnya memiliki riwayat imunisasi yang rendah, sehingga daya tahan tubuhnya tidak optimal,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan terus menggencarkan berbagai upaya, mulai dari penguatan peran puskesmas dan posyandu, hingga sosialisasi kepada tokoh agama dan pemanfaatan media sosial.
“Kami terus melakukan promosi dan edukasi kepada masyarakat agar kesadaran terhadap pentingnya imunisasi meningkat,” pungkas Laili.(*)
Editor : Arfa
















