Ketika Terumbu Buatan Menyelamatkan Pesisir Bangkalan

Jumat, 26 Desember 2025 - 10:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anak-anak bermain sepak bola di Pantai Pasir Putih Tlangoh, Bangkalan, Jawa Timur. Pemulihan pesisir melalui pemasangan terumbu buatan hexa reef tak hanya menahan abrasi, tetapi juga menghidupkan kembali ruang publik dan aktivitas sosial warga di kawasan pantai.

Anak-anak bermain sepak bola di Pantai Pasir Putih Tlangoh, Bangkalan, Jawa Timur. Pemulihan pesisir melalui pemasangan terumbu buatan hexa reef tak hanya menahan abrasi, tetapi juga menghidupkan kembali ruang publik dan aktivitas sosial warga di kawasan pantai.

BANGKALAN | Pesisir Pantai Pasir Putih Tlangoh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pernah berada di ambang kehilangan. Abrasi menggerus daratan hingga tujuh meter per tahun, sementara tumpukan sampah mencapai ribuan meter kubik setiap hari. Ancaman itu perlahan mengikis harapan warga yang menggantungkan hidup pada laut dan pariwisata pesisir.

Perubahan mulai terasa sejak PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) menjalankan Program Pengembangan Wisata Pesisir Terintegrasi Pantai Pasir Putih Tlangoh. Program ini memadukan upaya konservasi lingkungan dengan penguatan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.

Masalah abrasi terungkap lewat studi PHE WMO bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 2022. Hasil kajian menunjukkan abrasi parah dipicu oleh arus ombak kuat serta aktivitas penambangan pasir ilegal. Pada saat bersamaan, kawasan pesisir Desa Tlangoh juga dibebani timbunan sampah yang mencapai sekitar 1.488 meter kubik per hari.

“Kondisi ini membuat Tlangoh kehilangan potensi ekonomi dari sektor pariwisata,” kata Sr Manager Regional Indonesia Timur PHE WMO, Sigit Dwi Aryono.

PHE WMO kemudian mengusung konsep One Belt One Road (OBOR), sebuah strategi pemberdayaan pesisir yang menekankan sinergi empat dimensi utama: lingkungan, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Dari konsep itulah lahir inovasi penahan abrasi berupa hexa reef.

Hexa reef merupakan struktur buatan berbentuk segi enam yang ditanam di dasar laut. Berbeda dengan pemecah ombak konvensional yang dipasang di bibir pantai, hexa reef bekerja dengan memperlambat arus bawah laut dan menahan pasir agar tidak terbawa gelombang.

Penanaman hexa reef pertama dilakukan pada 2023 di perairan Pantai Pasir Putih Tlangoh. Hingga kini, sebanyak 390 ton hexa reef telah ditanam. Studi lanjutan pada 2025 menunjukkan perubahan signifikan. Di sejumlah segmen pantai terjadi sedimentasi atau akresi yang memperlebar garis pantai hingga lima meter.

Tak hanya menahan abrasi, hexa reef juga berkembang menjadi habitat baru bagi ekosistem laut. Seluruh permukaan terumbu buatan tersebut telah ditumbuhi biota sesil. Teridentifikasi 20 spesies ikan karang, terdiri atas 13 spesies ikan mayor dan tujuh spesies ikan target. Kondisi ini memudahkan nelayan setempat mencari ikan tanpa harus melaut jauh.

Sejak ditanam, seluruh struktur hexa reef tercatat masih dalam kondisi baik tanpa retak atau pecah. Terumbu buatan itu juga menjadi daya tarik wisata bahari. Karang lembaran mendominasi dengan tutupan 10,44 persen, disusul karang masif sebesar 7,87 persen.

Keberhasilan program ini turut ditopang peran Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat. Ia membangun kesadaran warga yang sebelumnya abai terhadap lingkungan dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tlangoh.

“Dengan adanya hexa reef, tercipta rantai nilai antara pengelola wisata, nelayan, dan pelaku UMKM,” ujar Kudrot.

Perubahan sosial pun mulai tampak. Penetapan Pantai Pasir Putih Tlangoh sebagai destinasi wisata memunculkan lapangan kerja baru. Setidaknya 40 UMKM kini beraktivitas di kawasan pantai, mulai dari kuliner, oleh-oleh, jasa wisata, hingga penyediaan lahan parkir.

Peluang ekonomi itu menarik minat warga yang sebelumnya merantau. Sejumlah mantan pekerja migran Indonesia memilih kembali dan membuka usaha di kampung halaman. Tujuh anggota Pokdarwis Tlangoh tercatat merupakan mantan pekerja migran.

General Manager Zona 11 PHE WMO, Zulfikar Akbar, menilai keberhasilan program ini bertumpu pada partisipasi warga. “Tanpa dukungan masyarakat, program ini tidak akan berhasil. Bagi kami, mereka adalah pahlawan tanpa jubah dan topeng dari Tlangoh,” ujarnya.

Di pesisir Bangkalan, terumbu buatan tak sekadar menahan ombak. Ia menjadi penanda perubahan—bahwa dari dasar laut, harapan baru bisa tumbuh di daratan.

Follow WhatsApp Channel ejaberita.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PT Garam Persero Camplong Sampang Berikan Klarifikasi Atas Aksi Demo
Pelabuhan Kamal Mati Suri, Warga Keluhkan Diduga Jadi Lokasi Pacaran Malam Hari
Anak Jalanan di Lampu Merah Petapaan Dinilai Meresahkan, H. Mohammad Nasih Aschal Dorong Penanganan Terpadu
Jalan Rusak hingga Air Bersih Dominasi Aspirasi Warga dalam Reses H. Mohammad Nasih Aschal di Banyuates
GMPK Sampang Dukung Sudaryono Pimpin BGN, Siap Kawal Program Makan Bergizi Gratis
DPD Tani Merdeka Sampang Ucapkan Selamat kepada Sudaryono, Dorong Sinergi Petani dan BGN
Mahasiswa POLTERA Borong Empat Gelar di Kompetisi Las Nasional
Tiga Hari Hilang di Laut, Nelayan Sampang Ditemukan Meninggal Mengapung di Pantai Paniniran

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:55 WIB

PT Garam Persero Camplong Sampang Berikan Klarifikasi Atas Aksi Demo

Senin, 27 Juli 2026 - 13:51 WIB

Pelabuhan Kamal Mati Suri, Warga Keluhkan Diduga Jadi Lokasi Pacaran Malam Hari

Senin, 27 Juli 2026 - 13:37 WIB

Anak Jalanan di Lampu Merah Petapaan Dinilai Meresahkan, H. Mohammad Nasih Aschal Dorong Penanganan Terpadu

Senin, 27 Juli 2026 - 09:03 WIB

Jalan Rusak hingga Air Bersih Dominasi Aspirasi Warga dalam Reses H. Mohammad Nasih Aschal di Banyuates

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:34 WIB

GMPK Sampang Dukung Sudaryono Pimpin BGN, Siap Kawal Program Makan Bergizi Gratis

Berita Terbaru