EJABERITA.CO | Bangkalan – Kabupaten Bangkalan kembali menorehkan prestasi di sektor pertanian. Direktur Operasi Pupuk Indonesia, Dwi Satrio, menyebut Bangkalan sebagai salah satu kabupaten termaju di bidang pertanian sekaligus calon pionir pertanian digital di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Dwi Satrio saat menghadiri kegiatan Rembuk Tani bertajuk “Wujudkan Swasembada Pangan Nasional Berkelanjutan” yang digelar di halaman Sinjay Residence, Jalan Raya Ketengan, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Menurut Dwi, predikat yang diberikan kepada Bangkalan bukan sekadar pujian, melainkan berdasarkan capaian nyata yang telah dilakukan pemerintah daerah dan para petani dalam mengembangkan sektor pertanian.
“Bangkalan menjadi salah satu kabupaten termaju di bidang pertanian,” ujar Dwi Satrio.
Ia menjelaskan, salah satu indikator kemajuan tersebut adalah penerapan digitalisasi data lahan pertanian. Dengan sistem yang telah terintegrasi, luas dan kondisi lahan pertanian di Bangkalan dapat dipantau secara lebih akurat, bahkan melalui teknologi satelit.
“Bangkalan akan menjadi pionir di bidang pertanian karena datanya cukup valid. Dari satelit sudah bisa diketahui jumlah dan kondisi lahan yang ada,” katanya.
Dwi menilai validitas data menjadi faktor penting dalam menentukan kebijakan pertanian, mulai dari distribusi pupuk, perencanaan produksi hingga penguatan ketahanan pangan nasional.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan yang diwakili Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Widya Astuti, mengungkapkan bahwa persoalan kelangkaan pupuk yang selama bertahun-tahun dikeluhkan petani kini mulai teratasi.
Di hadapan ratusan anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Widya menyampaikan bahwa sejak 2025 hingga 2026, ketersediaan pupuk bersubsidi maupun non-subsidi berada dalam kondisi aman.
“Persediaan pupuk untuk petani mencukupi dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.
Widya juga menanggapi isu alih fungsi lahan produktif yang belakangan menjadi perhatian berbagai pihak. Menurutnya, pemerintah telah memiliki mekanisme pengawasan melalui program Sinkronisasi, Koordinasi dan Pengendalian (SIKONDA).
Melalui mekanisme tersebut, setiap lahan pertanian produktif yang dialihfungsikan wajib memiliki lahan pengganti agar produksi pangan tetap terjaga.
“Lahan produktif yang telah dialihfungsikan harus ada penggantinya sehingga ketercukupan persediaan beras tetap terjamin,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah pusat terus mendorong percepatan swasembada pangan nasional sebagai bagian dari program strategis nasional.
“Pemerintah bertekad tahun 2025 swasembada beras dan tahun 2027 swasembada pangan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Bangkalan, CHK Karyadinata, mengungkapkan bahwa kondisi petani Bangkalan saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Menurutnya, saat musim panen tiba, petani biasanya dihadapkan pada dua kondisi yang berbeda.
“Senang karena hasil panen bagus dan melimpah, tetapi susah ketika harga hasil panen turun,” ujarnya sambil berkelakar.
Namun pada musim panen tahun 2026, kata Karyadinata, petani Bangkalan tidak lagi menghadapi persoalan harga gabah yang rendah. Produksi gabah di Bangkalan tercatat mencapai 12.643 ton dengan harga jual yang cukup menguntungkan petani.
“Saat ini harga gabah berkisar antara Rp7.300 hingga Rp7.500 per kilogram. Tidak ada lagi harga Rp4.000 sampai Rp5.000 per kilogram seperti dulu,” terangnya.
Bahkan, pihaknya siap turun langsung menyerap hasil panen apabila harga gabah di tingkat petani mengalami penurunan drastis.
“Kalau gabah petani dihargai di bawah Rp6.000 per kilogram, kami akan turun memborong gabah petani,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Karyadinata juga mengajak para petani untuk memanfaatkan metode pengendalian hama secara alami dengan memelihara burung hantu di area persawahan.
Menurutnya, keberadaan burung hantu terbukti efektif dalam menekan populasi tikus yang selama ini menjadi salah satu ancaman utama bagi produktivitas pertanian.
“Memelihara burung hantu cukup ampuh dalam memberantas tikus di sawah,” pungkasnya.
Dengan dukungan teknologi digital, ketersediaan pupuk yang semakin terjamin, serta meningkatnya produksi dan harga gabah, Bangkalan kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan di Indonesia.(*)













Komentar