Puluhan Tahun Menunggu, Tokoh Agama di Bangkalan Kritik Keras Kemenag soal Penentuan 1 Syawal

Rabu, 8 April 2026 - 12:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pengasuh Ponpes Darul Muttaqin, KH Takliman, menunjukkan surat kritik yang dilayangkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia terkait polemik penentuan 1 Syawal.

Pengasuh Ponpes Darul Muttaqin, KH Takliman, menunjukkan surat kritik yang dilayangkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia terkait polemik penentuan 1 Syawal.

EJABERITA.CO | Bangkalan – Polemik penentuan 1 Syawal kembali menuai sorotan. Tokoh agama di Bangkalan melayangkan kritik keras terhadap pemerintah terkait metode penetapan awal Ramadan dan Idulfitri yang dinilai belum menyatukan umat.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin, KH Takliman, mengkritik kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia dalam menentukan awal bulan Hijriah yang kerap memicu perbedaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, persoalan ini sudah berlangsung lama tanpa solusi konkret. Ia pun mengaku telah melayangkan surat protes ke berbagai pihak, mulai dari Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Pengadilan Agama dan kantor Kemenag di Bangkalan.

“Solusi atas perbedaan awal puasa, Idulfitri, dan Iduladha sudah saya tunggu selama puluhan tahun. Karena itu, sekarang saya tidak memohon lagi, melainkan langsung melayangkan kritik konstruktif,” tegasnya, Rabu (8/4/2026).

Takliman juga menyampaikan kritik tersebut kepada Prabowo Subianto serta Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia menilai pelaksanaan sidang isbat tahunan dan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) masih belum mampu menjawab persoalan perbedaan yang terjadi setiap tahun.

Ia bahkan menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk “logical fallacy” yang justru menimbulkan kebingungan di tengah umat Islam.

Sebagai solusi, Takliman mengusulkan agar Menteri Agama mengumpulkan seluruh pimpinan lembaga keagamaan untuk merumuskan kalender Hijriah global yang lebih komprehensif.

Ia menawarkan penggabungan dua metode utama, yakni hisab haqiqi wujudul hilal dan rukyat haqiqi saintifik presisi. Menurutnya, kedua metode tersebut bersifat pasti (qath’i) dan dapat dijadikan dasar penyusunan kalender global.

Jika diterapkan, konsep tersebut akan menghasilkan Kalender Hijriah Global Zonal (KHGZ), baik dalam bentuk bizonal maupun tiga zona, yang disesuaikan dengan pergerakan bulan dan tetap selaras dengan dalil Al-Qur’an serta Hadis.

“Hal itu tidak sulit dilakukan asalkan sesuai dengan karakter bulan, karena menggunakan prinsip revolusi bulan terhadap bumi,” pungkasnya.(*)

Editor : Arfa

Follow WhatsApp Channel ejaberita.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Santri Nasional 2026, Ahmad Mahfudz Dorong Santri Jadi Pelopor Perubahan
Pimpinan dan Anggota DPRD Bangkalan Ucapkan Selamat Hari Santri 2026: Santri Berdaya, Indonesia Jaya
Tiga Sungai di Bangkalan Dibersihkan Menjelang Musim Hujan
IWAPI Bangkalan Salurkan 15 Ribu Liter Air Bersih, Bantuan Berlanjut Pekan Depan
KEI Dorong Produktivitas Petani di Pulau Sapeken Sumenep
Dari Wakil Bendahara PKB, Feri Hartanto Mulai Masuk Peta Politik Sumenep
Atasi Kekeringan di Sampang, DEM Madura Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Desa Tlambah
Soal Tambang Ilegal, PMII Pamekasan Minta Pemkab Tak Lempar Tanggung Jawab ke Polisi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Hari Santri Nasional 2026, Ahmad Mahfudz Dorong Santri Jadi Pelopor Perubahan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:37 WIB

Tiga Sungai di Bangkalan Dibersihkan Menjelang Musim Hujan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:41 WIB

IWAPI Bangkalan Salurkan 15 Ribu Liter Air Bersih, Bantuan Berlanjut Pekan Depan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:18 WIB

KEI Dorong Produktivitas Petani di Pulau Sapeken Sumenep

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:43 WIB

Dari Wakil Bendahara PKB, Feri Hartanto Mulai Masuk Peta Politik Sumenep

Berita Terbaru