EJABERITA.CO | Bangkalan – Polemik penentuan 1 Syawal kembali menuai sorotan. Tokoh agama di Bangkalan melayangkan kritik keras terhadap pemerintah terkait metode penetapan awal Ramadan dan Idulfitri yang dinilai belum menyatukan umat.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin, KH Takliman, mengkritik kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia dalam menentukan awal bulan Hijriah yang kerap memicu perbedaan di tengah masyarakat.
Menurutnya, persoalan ini sudah berlangsung lama tanpa solusi konkret. Ia pun mengaku telah melayangkan surat protes ke berbagai pihak, mulai dari Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Pengadilan Agama dan kantor Kemenag di Bangkalan.
“Solusi atas perbedaan awal puasa, Idulfitri, dan Iduladha sudah saya tunggu selama puluhan tahun. Karena itu, sekarang saya tidak memohon lagi, melainkan langsung melayangkan kritik konstruktif,” tegasnya, Rabu (8/4/2026).
Takliman juga menyampaikan kritik tersebut kepada Prabowo Subianto serta Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia menilai pelaksanaan sidang isbat tahunan dan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) masih belum mampu menjawab persoalan perbedaan yang terjadi setiap tahun.
Ia bahkan menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk “logical fallacy” yang justru menimbulkan kebingungan di tengah umat Islam.
Sebagai solusi, Takliman mengusulkan agar Menteri Agama mengumpulkan seluruh pimpinan lembaga keagamaan untuk merumuskan kalender Hijriah global yang lebih komprehensif.
Ia menawarkan penggabungan dua metode utama, yakni hisab haqiqi wujudul hilal dan rukyat haqiqi saintifik presisi. Menurutnya, kedua metode tersebut bersifat pasti (qath’i) dan dapat dijadikan dasar penyusunan kalender global.
Jika diterapkan, konsep tersebut akan menghasilkan Kalender Hijriah Global Zonal (KHGZ), baik dalam bentuk bizonal maupun tiga zona, yang disesuaikan dengan pergerakan bulan dan tetap selaras dengan dalil Al-Qur’an serta Hadis.
“Hal itu tidak sulit dilakukan asalkan sesuai dengan karakter bulan, karena menggunakan prinsip revolusi bulan terhadap bumi,” pungkasnya.(*)
Editor : Arfa
















