EJABERITA.CO | Bangkalan – Di tengah peringatan Hari Pendidikan Nasional, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan cermin dari kepedulian bersama yang dimulai dari rumah.
Bagi sebagian orang, pendidikan masih dipahami sebatas ruang kelas, buku pelajaran, dan angka-angka di rapor. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan justru sangat ditentukan oleh hal-hal sederhana—seberapa besar perhatian orang tua, seberapa kuat dukungan lingkungan, dan seberapa konsisten peran semua pihak dalam mendampingi anak.
Anggota DPRD Bangkalan, Moh. Syukur, melihat bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan hanya soal fasilitas atau kurikulum, melainkan tentang membangun kesadaran bersama.
Menurutnya, banyak pihak masih menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Padahal, tanpa keterlibatan keluarga, proses pendidikan menjadi timpang.
“Ada yang sering kita lupakan, bahwa pendidikan pertama itu bukan di sekolah, tapi di rumah. Dari situlah karakter anak dibentuk,” ujar pria yang berada di Fraksi NasDem itu. Selasa (02/05/2026).
Ia menilai, guru memang memiliki peran penting dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Namun, nilai-nilai dasar seperti disiplin, tanggung jawab, dan etika justru lebih dulu tumbuh dari lingkungan keluarga.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan sistem pendidikan berjalan dengan baik. Mulai dari pemerataan akses, peningkatan kualitas tenaga pendidik, hingga menciptakan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan yang baik tidak akan berdampak maksimal jika tidak diiringi dengan partisipasi aktif masyarakat.
“Pendidikan itu tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada gerakan bersama. Kalau hanya satu pihak yang bergerak, hasilnya tidak akan maksimal,” tegasnya.
Dalam pandangannya, pendidikan berkualitas bukan sesuatu yang instan. Ia lahir dari proses panjang yang melibatkan kepedulian, konsistensi, dan kebersamaan.
Momentum Hari Pendidikan Nasional, menurutnya, seharusnya menjadi titik balik untuk memperbaiki cara pandang tersebut. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi untuk bertanya: sudah sejauh mana kita benar-benar terlibat dalam pendidikan anak-anak kita?
Di Bangkalan, harapan itu masih terbuka lebar. Dengan potensi sumber daya manusia yang besar, serta semangat kebersamaan masyarakat, pendidikan yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
“Kita semua punya peran. Sekecil apa pun itu. Dan kalau semua bergerak, perubahan pasti terjadi,” pungkasnya.(*)

















Komentar