Olahraga

Helmi Fuad: Dari Bangkalan, Memintarkan Indonesia Lewat Olahraga Domino

EJABERITA.CO | BANGKALAN – Selama puluhan tahun, domino hidup di ruang pinggir. Ia akrab di warung kopi, pos ronda, dan sudut-sudut kampung. Helmi Fuad, seorang pionir dalam olahraga domino, berusaha mengubah pandangan masyarakat tentang permainan ini.

Namun absen dari panggung kebijakan olahraga. Di sanalah stigma tumbuh: domino dianggap sekadar permainan rakyat, bahkan kerap diseret ke bayang-bayang perjudian.

Kini, babak itu mulai ditutup.
Dalam Deklarasi Nasional Organisasi Olahraga Domino Indonesia (ORADO) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Senin (12/1) lalu, domino secara resmi memasuki gelanggang olahraga prestasi. Helmi Fuad berperan penting dalam momen bersejarah ini.

Di momentum yang sama, Helmi Fuad ditetapkan sebagai Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) ORADO Kabupaten Bangkalan periode 2026–2030.

Deklarasi itu bukan seremoni biasa. Kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, bersama Ketua Umum KONI dan Ketua KOI, menjadi pesan politik yang jelas: negara memberi legitimasi.

“Ini bukan lagi sekadar komunitas. Ini cabang olahraga yang diakui,” kata Helmi Fuad. Rabu (4/1/2026).

Bagi Helmi, putra Bangkalan, Madura, pengakuan negara ini adalah titik balik. Ia menyebut domino terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa arah, tanpa sistem, dan tanpa perlindungan kebijakan.

“Domino itu permainan strategi. Ada kecerdasan, perhitungan, dan sportivitas. Tapi karena tak pernah diurus secara serius, ia terjebak stigma,” tegasnya.

ORADO, menurut Helmi, lahir sebagai alat koreksi kebijakan, untuk mengubah domino dari praktik informal menjadi olahraga yang diatur, dibina, dan dipertanggungjawabkan.

“Kami tidak sedang membesarkan event. Kami sedang membangun sistem. Tanpa sistem, domino akan terus dianggap pinggiran,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan arah ORADO: olahraga adalah urusan tata kelola, bukan sekadar antusiasme massa. Ada pembinaan berjenjang, ada regulasi, ada wasit tersertifikasi, dan ada jalur prestasi yang jelas.

Di Bangkalan, Helmi langsung memancang agenda. Ia melihat Bangkalan bukan sebagai daerah pinggiran, melainkan lumbung bakat yang selama ini diabaikan negara.

“Dari desa-desa, dari meja-meja kecil itu, lahir pemain-pemain cerdas. Tapi negara belum pernah hadir. ORADO ingin mengisi ruang kosong itu,” katanya.

Karena itu, ia menargetkan pembentukan basis-basis pembinaan domino di tingkat kecamatan. Turnamen lokal akan diarahkan menjadi alat seleksi, bukan sekadar hiburan.

“Dari meja kampung ke arena prestasi. Itu politik pembinaan kami,” ujarnya lugas.

Helmi juga menarik garis tegas yang selama ini kabur di mata publik.

“Domino yang kami perjuangkan adalah olahraga. Bukan perjudian. Ini soal strategi dan etika. Kalau negara hadir dengan aturan, stigma akan runtuh dengan sendirinya,” katanya.

ORADO hadir dengan tagline “ORADO Memintarkan Indonesia”. Sebuah pernyataan ideologis bahwa domino ditempatkan sebagai olahraga olah pikir, setara dengan catur dan cabang intelektual lainnya.

Ke depan, Helmi mendorong domino masuk agenda olahraga resmi daerah hingga nasional. Baginya, ini bukan sekadar ambisi organisasi, tetapi perjuangan politik kebudayaan.

“Domino ini budaya rakyat. Kalau kita kelola serius, ia bisa jadi identitas olahraga Indonesia sendiri, bukan impor,” ujarnya.

Bagi Helmi Fuad, perjuangan ini jelas bukan kerja singkat.

“Ini kerja panjang. Tapi sekarang, domino sudah mendapat legitimasi negara. Tinggal satu hal: keberanian kita mengelolanya secara bermartabat,” pungkasnya.

Di titik ini, domino tak lagi sekadar bunyi kartu di warung kopi. Ia telah masuk ruang kebijakan. Dan dari Bangkalan, Helmi Fuad bersiap menguji satu hal penting: apakah olahraga rakyat bisa benar-benar naik kelas ketika negara ikut campur tangan. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *