Ketika Sumatra Tak Mampu Menampung Hujan: Korban Banjir Tembus 916 Jiwa

Minggu, 7 Desember 2025 - 11:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang warga melintasi genangan banjir sambil membawa barang kebutuhan, sementara sebuah mobil terseret arus dan terperosok di pinggir jalan pascabanjir besar yang melanda wilayah Sumatra.

Seorang warga melintasi genangan banjir sambil membawa barang kebutuhan, sementara sebuah mobil terseret arus dan terperosok di pinggir jalan pascabanjir besar yang melanda wilayah Sumatra.

JAKARTA | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui data korban banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra. Hingga Minggu (7/12/2025) pukul 08.20 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 916 jiwa, sementara 274 orang masih hilang. Data ini tercantum dalam Dashboard Penanganan Banjir dan Longsor Sumatra BNPB.

Dalam keterangan resmi, BNPB juga melaporkan lebih dari 4.200 warga terluka, serta ribuan infrastruktur publik yang rusak. Banjir dan longsor yang terjadi sejak 24 November itu kini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Kerusakan Infrastruktur Meluas

Selain korban jiwa, bencana ini menyebabkan kerusakan yang luas pada fasilitas publik maupun rumah warga. BNPB mencatat:

  • 105.900 rumah rusak berbagai kategori
  • 1.300 fasilitas umum terdampak
  • 420 rumah ibadah
  • 199 fasilitas kesehatan
  • 234 gedung/kantor pemerintahan
  • 697 fasilitas pendidikan
  • 405 jembatan rusak atau putus

Peningkatan jumlah korban juga terjadi dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Sabtu (6/12/2025), korban meninggal tercatat 914 jiwa. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merinci sebarannya:

  • Aceh: 359 jiwa, naik dari 345 jiwa
  • Sumatra Utara: 329 jiwa
  • Sumatra Barat: 226 jiwa

Proses pencarian masih berlangsung, namun akses lapangan kerap terkendala kondisi cuaca dan kerusakan jalan.

Hujan Ekstrem dan Fenomena Atmosfer

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa bencana ini tidak berdiri sendiri. Wilayah Sumatra bagian utara memang berada pada puncak musim hujan, dengan pola dua puncak hujan dalam setahun.

Pada periode tersebut, curah hujan mencapai lebih dari 150 milimeter, bahkan beberapa stasiun BMKG mencatat lebih dari 300 milimeter dalam satu hari, angka yang mendekati curah hujan ekstrem penyebab banjir besar Jakarta pada 2020.

Fenomena atmosfer turut memperkuat hujan ekstrem. Pada 24 November, terlihat pusaran atau vortex dari Semenanjung Malaysia yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Siklon ini meningkatkan suplai uap air, memperluas pembentukan awan hujan, dan membuat presipitasi berlangsung lebih lama.

Rais menambahkan, indikasi cold surge vortex dan sistem cuaca skala meso juga berperan membentuk awan hujan intens yang meliputi wilayah luas.

Ketika Lingkungan Kehilangan Daya Resap

Bencana ini tak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan. Heri Andreas, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, menegaskan bahwa besarnya kerusakan bukan hanya dipicu hujan ekstrem, tetapi juga melemahnya kemampuan lahan dalam menyerap air.

“Banjir bukan hanya soal hujan. Ini soal bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi,” ujarnya. Jumat, (5/12/2025).

Menurutnya, penurunan tutupan vegetasi, perubahan fungsi lahan, serta menurunnya kapasitas tampung wilayah membuat air hujan mengalir langsung ke permukiman dan sungai tanpa infiltrasi yang memadai. Limpasan meningkat cepat, dan banjir pun menjadi lebih parah.

Heri juga menilai peta bahaya banjir di Indonesia belum sepenuhnya akurat karena keterbatasan data geospasial dan pemodelan hidrologi. Padahal, perencanaan tata ruang berbasis risiko sangat penting agar bencana serupa tidak kembali menelan banyak korban.

Tantangan Penanganan dan Pemulihan

Dengan ribuan rumah rusak dan ratusan fasilitas publik lumpuh, proses pemulihan diperkirakan berlangsung panjang. Banyak wilayah masih sulit dijangkau karena jembatan yang runtuh atau jalan yang tertimbun material longsor.

Tim pencarian dan pertolongan masih menyisir lokasi terdampak untuk mencari ratusan warga yang belum ditemukan. Kondisi cuaca yang belum stabil menambah tantangan di lapangan.

Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan tata ruang yang lemah menciptakan kerentanan besar ketika hujan ekstrem datang. Sumatra, kali ini, tak mampu menampung hujan yang turun tanpa henti.

Follow WhatsApp Channel ejaberita.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PWI Pusat Tancap Gas: AD/ART Rampung, Website dan Podcast Resmi Segera Diluncurkan
Gus Yahya Siap Maju di Muktamar NU, Tegaskan Bukan Ambisi Pribadi
Cek Gudang BULOG Bangkalan, DPR RI Jamin Stok Pangan Madura Aman hingga 10 Bulan
Masjid Al Huda Diresmikan, Mendikdasmen Tekankan Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Umat
104 Siswa Terpaksa Ngungsi, Mendikdasmen Janjikan Bangun Ulang SDN Kajuanak 4
Pemkab Sampang Terima Hibah Aset Migas, Siap Disulap Jadi Kawasan Edukasi Terpadu
OTT KPK: Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Ditangkap, Kasus Masih Dirahasiakan
Jadwal Haji 2026 Resmi Dimulai 21 April, Ini Rangkaian Lengkap hingga Kepulangan Jemaah

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 10:00 WIB

PWI Pusat Tancap Gas: AD/ART Rampung, Website dan Podcast Resmi Segera Diluncurkan

Selasa, 5 Mei 2026 - 05:49 WIB

Gus Yahya Siap Maju di Muktamar NU, Tegaskan Bukan Ambisi Pribadi

Selasa, 5 Mei 2026 - 05:34 WIB

Cek Gudang BULOG Bangkalan, DPR RI Jamin Stok Pangan Madura Aman hingga 10 Bulan

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:28 WIB

Masjid Al Huda Diresmikan, Mendikdasmen Tekankan Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Umat

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:17 WIB

104 Siswa Terpaksa Ngungsi, Mendikdasmen Janjikan Bangun Ulang SDN Kajuanak 4

Berita Terbaru