Tambang Galian C Diduga Tak Terkendali, PMII Sampang Turun Jalan

Rabu, 22 April 2026 - 06:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sampang menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRD dan Pemkab Sampang, menuntut penertiban tambang galian C yang diduga merusak lingkungan dan infrastruktur. Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sampang menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRD dan Pemkab Sampang, menuntut penertiban tambang galian C yang diduga merusak lingkungan dan infrastruktur. Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian.

EJABERITA.CO | Sampang – Aktivitas tambang galian C di Kabupaten Sampang kembali menjadi sorotan. Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sampang menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD dan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, Selasa (21/4/2026).

Dalam aksinya, PMII mendesak pemerintah daerah dan legislatif segera mengambil langkah tegas terhadap aktivitas tambang yang diduga berjalan tanpa kendali dan berdampak serius terhadap lingkungan.

Ketua Umum PC PMII Sampang, Latifah, menyampaikan bahwa kondisi lingkungan di Sampang saat ini menunjukkan tanda-tanda degradasi yang mengkhawatirkan. Ia menyebut banjir yang terjadi berulang, kerusakan kawasan pesisir, menurunnya kualitas lahan pertanian, hingga kerusakan infrastruktur sebagai bukti nyata.

“Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berimbas langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan hasil kajian lapangan dan analisis kebijakan yang dilakukan PMII, berbagai persoalan tersebut dinilai berkaitan erat dengan aktivitas tambang galian C yang tidak terkontrol, termasuk di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan daerah resapan air.

Latifah menjelaskan, wilayah pesisir kini mengalami penurunan fungsi ekosistem penyangga. Daerah resapan air semakin berkurang, sementara keseimbangan lingkungan terus terganggu. Ia menilai kondisi ini diperparah oleh aktivitas pertambangan yang tidak berjalan sesuai regulasi.

“Kerusakan lingkungan yang terjadi sudah masuk dalam kategori krisis keadilan publik,” tegasnya.

Ia menyoroti, dampak dari aktivitas tambang justru lebih banyak ditanggung masyarakat. Jalan rusak akibat lalu lintas truk tambang diperbaiki menggunakan anggaran daerah, sementara pelaku usaha tambang dinilai minim tanggung jawab terhadap kerusakan yang ditimbulkan.

“Ini pola pembiaran. Uang rakyat dipakai untuk memperbaiki kerusakan akibat aktivitas yang menguntungkan segelintir pihak,” kritiknya.

Dari hasil advokasi yang dilakukan PMII, ditemukan bahwa sejumlah aktivitas tambang berjalan tanpa memperhatikan aspek ekologis. Lahan dibuka tanpa pemulihan, dan kewajiban reklamasi pascatambang tidak dijalankan secara maksimal, sehingga menyisakan lubang-lubang berbahaya dan lahan kritis.

Di sektor infrastruktur, kerusakan jalan kabupaten akibat mobilisasi material tambang menjadi ancaman bagi keselamatan masyarakat. Namun, biaya perbaikannya justru dibebankan pada APBD.

Selain itu, sektor pertanian juga terdampak. Produktivitas lahan menurun akibat terganggunya sistem irigasi, sementara sedimentasi di sungai menyebabkan pendangkalan yang meningkatkan risiko banjir.

Kerusakan di wilayah pesisir pun semakin parah, ditandai dengan meningkatnya abrasi dan melemahnya kawasan penyangga alami. Sistem tata air dari hulu ke hilir ikut terganggu.

Permasalahan ini, kata Latifah, semakin kompleks dengan buruknya pengelolaan sampah yang membuat sungai berfungsi sebagai tempat pembuangan akhir.

“Pengawasan yang lemah dan minimnya transparansi data membuat aktivitas tambang ilegal tetap berjalan,” pungkasnya.(*)

Editor : Arfa

Follow WhatsApp Channel ejaberita.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Santri Nasional 2026, Ahmad Mahfudz Dorong Santri Jadi Pelopor Perubahan
Pimpinan dan Anggota DPRD Bangkalan Ucapkan Selamat Hari Santri 2026: Santri Berdaya, Indonesia Jaya
Tiga Sungai di Bangkalan Dibersihkan Menjelang Musim Hujan
IWAPI Bangkalan Salurkan 15 Ribu Liter Air Bersih, Bantuan Berlanjut Pekan Depan
KEI Dorong Produktivitas Petani di Pulau Sapeken Sumenep
Dari Wakil Bendahara PKB, Feri Hartanto Mulai Masuk Peta Politik Sumenep
Atasi Kekeringan di Sampang, DEM Madura Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Desa Tlambah
Soal Tambang Ilegal, PMII Pamekasan Minta Pemkab Tak Lempar Tanggung Jawab ke Polisi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Hari Santri Nasional 2026, Ahmad Mahfudz Dorong Santri Jadi Pelopor Perubahan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:37 WIB

Tiga Sungai di Bangkalan Dibersihkan Menjelang Musim Hujan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:41 WIB

IWAPI Bangkalan Salurkan 15 Ribu Liter Air Bersih, Bantuan Berlanjut Pekan Depan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:18 WIB

KEI Dorong Produktivitas Petani di Pulau Sapeken Sumenep

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:43 WIB

Dari Wakil Bendahara PKB, Feri Hartanto Mulai Masuk Peta Politik Sumenep

Berita Terbaru