Di Usia ke-72, GMNI Dinilai Hadapi Krisis Relevansi di Bangkalan
EJABERITA.CO | BANGKALAN – Memasuki usia ke-72 tahun, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dinilai tengah menghadapi tantangan serius terkait relevansi gerakan, khususnya di daerah seperti Bangkalan.
Momentum hari ulang tahun organisasi tersebut seharusnya menjadi ajang refleksi mendalam, bukan sekadar seremoni bernuansa nostalgia sejarah.
Seorang mahasiswa aktif yang juga kader GMNI menilai, organisasi tersebut masih kerap terjebak dalam romantisme masa lalu dengan mengulang pemikiran Soekarno dan konsep Marhaenisme tanpa pembaruan yang relevan dengan kondisi zaman saat ini.
“Pertanyaannya, apakah ideologi itu masih hidup dalam praktik, atau hanya menjadi slogan yang terus diulang?” ujarnya.
Menurutnya, usia panjang organisasi tidak otomatis mencerminkan kematangan gerakan. Justru di fase ini, GMNI disebut menghadapi krisis mendasar berupa menurunnya daya relevansi di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Minim Inovasi dan Dampak Nyata
Ia menilai, warisan ideologis yang dimiliki GMNI saat ini lebih sering dijadikan alat legitimasi daripada sebagai pijakan gerakan nyata. Marhaenisme dinilai berhenti pada ruang diskusi dan belum banyak diwujudkan dalam solusi konkret bagi masyarakat.
“Retorika masih kuat, tetapi tidak diiringi kemampuan teknis dan kapasitas intelektual yang memadai,” katanya.
Di era digital seperti sekarang, lanjutnya, pola gerakan konvensional dinilai semakin kehilangan daya tekan. Aksi demonstrasi tanpa basis data, kritik tanpa solusi, serta minimnya dampak nyata dinilai dapat membuat organisasi tersebut ditinggalkan publik.
Tantangan Nyata di Daerah
Di tingkat lokal, khususnya Bangkalan, persoalan seperti kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan, dan tata kelola anggaran menjadi isu nyata yang membutuhkan keterlibatan aktif organisasi mahasiswa.
Namun, keberadaan GMNI dinilai belum maksimal dalam menjawab persoalan tersebut.
“Jika hanya muncul saat momentum tertentu, lalu menghilang, itu menunjukkan organisasi kehilangan arah,” ungkapnya.
Dari Gerakan Moral ke Simbolik
Selama ini GMNI dikenal sebagai gerakan moral. Namun, konsep tersebut dinilai mulai kehilangan makna jika tidak disertai aksi nyata di tengah masyarakat.
Pengamat internal organisasi menilai, ada risiko GMNI berubah menjadi gerakan simbolik—kuat dalam narasi, tetapi lemah dalam implementasi.
Dorongan Perubahan Internal
Untuk menjawab tantangan tersebut, GMNI dinilai perlu melakukan perubahan fundamental. Beberapa langkah yang disoroti antara lain reformasi kaderisasi, penguatan riset dan advokasi, serta penguasaan ruang digital.
Selain itu, kader juga dituntut tidak hanya kritis, tetapi mampu menghadirkan solusi berbasis data serta terlibat dalam ruang-ruang strategis.
“GMNI harus berani mengkritik diri sendiri, termasuk soal elitisme kader dan minimnya inovasi,” tegasnya.
Momentum Evaluasi
Di usia ke-72 ini, GMNI disebut berada di titik krusial: antara mempertahankan eksistensi sebagai gerakan perubahan atau terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.
Bangkalan, sebagai bagian dari wilayah yang menghadapi berbagai persoalan sosial, dinilai membutuhkan kehadiran organisasi mahasiswa yang tidak hanya vokal, tetapi juga solutif dan berdampak nyata.
“Jika mampu beradaptasi, GMNI akan tetap relevan. Jika tidak, maka akan tertinggal oleh perubahan zaman,” pungkasnya.(*)





