Di Usia ke-72, GMNI Dinilai Hadapi Krisis Relevansi di Bangkalan

Minggu, 22 Maret 2026 - 21:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rahman, pengurus cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kabupaten Bangkalan, menunjukkan semangat perjuangan dalam momentum refleksi 72 tahun organisasi.

Rahman, pengurus cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kabupaten Bangkalan, menunjukkan semangat perjuangan dalam momentum refleksi 72 tahun organisasi.

EJABERITA.CO | BANGKALAN  – Memasuki usia ke-72 tahun, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dinilai tengah menghadapi tantangan serius terkait relevansi gerakan, khususnya di daerah seperti Bangkalan.

Momentum hari ulang tahun organisasi tersebut seharusnya menjadi ajang refleksi mendalam, bukan sekadar seremoni bernuansa nostalgia sejarah.

Seorang mahasiswa aktif yang juga kader GMNI menilai, organisasi tersebut masih kerap terjebak dalam romantisme masa lalu dengan mengulang pemikiran Soekarno dan konsep Marhaenisme tanpa pembaruan yang relevan dengan kondisi zaman saat ini.

“Pertanyaannya, apakah ideologi itu masih hidup dalam praktik, atau hanya menjadi slogan yang terus diulang?” ujarnya.

Menurutnya, usia panjang organisasi tidak otomatis mencerminkan kematangan gerakan. Justru di fase ini, GMNI disebut menghadapi krisis mendasar berupa menurunnya daya relevansi di tengah perubahan sosial dan teknologi.

Minim Inovasi dan Dampak Nyata

Ia menilai, warisan ideologis yang dimiliki GMNI saat ini lebih sering dijadikan alat legitimasi daripada sebagai pijakan gerakan nyata. Marhaenisme dinilai berhenti pada ruang diskusi dan belum banyak diwujudkan dalam solusi konkret bagi masyarakat.

“Retorika masih kuat, tetapi tidak diiringi kemampuan teknis dan kapasitas intelektual yang memadai,” katanya.

Di era digital seperti sekarang, lanjutnya, pola gerakan konvensional dinilai semakin kehilangan daya tekan. Aksi demonstrasi tanpa basis data, kritik tanpa solusi, serta minimnya dampak nyata dinilai dapat membuat organisasi tersebut ditinggalkan publik.

Tantangan Nyata di Daerah

Di tingkat lokal, khususnya Bangkalan, persoalan seperti kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan, dan tata kelola anggaran menjadi isu nyata yang membutuhkan keterlibatan aktif organisasi mahasiswa.

Namun, keberadaan GMNI dinilai belum maksimal dalam menjawab persoalan tersebut.

“Jika hanya muncul saat momentum tertentu, lalu menghilang, itu menunjukkan organisasi kehilangan arah,” ungkapnya.

Dari Gerakan Moral ke Simbolik

Selama ini GMNI dikenal sebagai gerakan moral. Namun, konsep tersebut dinilai mulai kehilangan makna jika tidak disertai aksi nyata di tengah masyarakat.

Pengamat internal organisasi menilai, ada risiko GMNI berubah menjadi gerakan simbolik—kuat dalam narasi, tetapi lemah dalam implementasi.

Dorongan Perubahan Internal

Untuk menjawab tantangan tersebut, GMNI dinilai perlu melakukan perubahan fundamental. Beberapa langkah yang disoroti antara lain reformasi kaderisasi, penguatan riset dan advokasi, serta penguasaan ruang digital.

Selain itu, kader juga dituntut tidak hanya kritis, tetapi mampu menghadirkan solusi berbasis data serta terlibat dalam ruang-ruang strategis.

“GMNI harus berani mengkritik diri sendiri, termasuk soal elitisme kader dan minimnya inovasi,” tegasnya.

Momentum Evaluasi

Di usia ke-72 ini, GMNI disebut berada di titik krusial: antara mempertahankan eksistensi sebagai gerakan perubahan atau terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Bangkalan, sebagai bagian dari wilayah yang menghadapi berbagai persoalan sosial, dinilai membutuhkan kehadiran organisasi mahasiswa yang tidak hanya vokal, tetapi juga solutif dan berdampak nyata.

“Jika mampu beradaptasi, GMNI akan tetap relevan. Jika tidak, maka akan tertinggal oleh perubahan zaman,” pungkasnya.(*)

Follow WhatsApp Channel ejaberita.co untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

YAKORMA Kalbar Siap “Naik Kelas”, Muswil 2026 Disiapkan Jadi Momentum Kebangkitan Organisasi
Madura Batik Fest 2026 Jadi Momentum Pelajar Rawat Identitas Bangsa
BULOG Madura Salurkan Minyak Goreng ke Pasar Bangkalan demi Stabilitas Harga
Kuasa Hukum Korban Desak Polisi Usut Dugaan Keterlibatan Internal BRI dalam Kasus Kredit Fiktif SK Pensiun
Usai QRIS BCA Bermasalah, Nasabah di Sumenep Klaim Saldo Hilang
Jelang Hari Besar, Pertamina Fokus Stabilkan Distribusi BBM di Wilayah Kepulauan
Sidang Kerap Molor, Pelayanan PN Sampang Disorot Publik
Universitas Annuqayah Madura Dorong Mahasiswa Aktif Menulis

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 15:30 WIB

YAKORMA Kalbar Siap “Naik Kelas”, Muswil 2026 Disiapkan Jadi Momentum Kebangkitan Organisasi

Rabu, 20 Mei 2026 - 20:58 WIB

Madura Batik Fest 2026 Jadi Momentum Pelajar Rawat Identitas Bangsa

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:33 WIB

BULOG Madura Salurkan Minyak Goreng ke Pasar Bangkalan demi Stabilitas Harga

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:21 WIB

Kuasa Hukum Korban Desak Polisi Usut Dugaan Keterlibatan Internal BRI dalam Kasus Kredit Fiktif SK Pensiun

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:10 WIB

Usai QRIS BCA Bermasalah, Nasabah di Sumenep Klaim Saldo Hilang

Berita Terbaru