Gen Z Menjelang Pergantian Tahun, Antara Harapan dan Kesadaran Baru
EJABERITA.co | Realitas sosial dan ekonomi membuat Gen Z tumbuh lebih cepat. Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, hingga tekanan sosial di ruang digital membentuk cara pandang yang lebih realistis. Tak heran jika perayaan besar mulai ditinggalkan. Banyak dari kami memilih kesederhanaan—nongkrong kecil, di rumah saja, atau bahkan menyendiri—tanpa merasa kehilangan makna.
Media sosial tetap menjadi ruang ekspresi, tetapi fungsinya bergeser. Bukan hanya pamer kesenangan, melainkan ruang refleksi: kilas balik setahun, cerita jatuh-bangun, dan resolusi yang lebih jujur. Gen Z belajar bahwa tak semua hal harus terlihat sempurna.
Resolusi tahun baru pun berubah arah. Ambisi besar digantikan target kecil namun konsisten: menjaga kesehatan mental, memperbaiki pola hidup, belajar keterampilan baru, dan bertahan secara finansial. Ini bukan tanda pesimisme, melainkan bentuk kedewasaan—menyadari batas diri di tengah dunia yang serba cepat.
Di sisi lain, kesadaran sosial makin kuat. Gen Z semakin peka pada isu lingkungan, inklusivitas, dan empati. Merayakan tanpa berlebihan, mengurangi sampah, hingga berbagi lewat donasi digital menjadi pilihan yang mencerminkan nilai, bukan sekadar tren.
Pergantian tahun bagi Gen Z bukan soal harus lebih hebat dari orang lain, melainkan lebih jujur pada diri sendiri. Kami tak menutup mata pada kesulitan, tapi tetap menyimpan harapan—bahwa tahun baru bisa dijalani dengan lebih waras, seimbang, dan manusiawi.
Mungkin inilah wajah Gen Z hari ini: generasi yang tidak selalu bersuara keras, tetapi berpikir dalam. Tidak selalu merayakan dengan gemerlap, namun mencoba melangkah dengan kesadaran.



