
EJABERITA.CO | SUMENEP – Kerusakan ekosistem laut di wilayah Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tidak hanya berdampak pada kehidupan nelayan, tetapi juga memberikan tekanan besar bagi perempuan dan keluarga pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil laut.
Sebagai kawasan kepulauan yang berada di jalur pertemuan arus laut Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, sebagian besar masyarakat Masalembu menjadikan sektor perikanan sebagai sumber utama penghasilan. Namun, menurunnya hasil tangkapan akibat berbagai persoalan, mulai dari aktivitas penangkapan yang merusak hingga perubahan kondisi lingkungan laut, membuat ekonomi masyarakat semakin terhimpit.
Dampak tersebut paling terasa di tingkat rumah tangga. Perempuan nelayan yang selama ini berperan dalam mengolah, menjual, dan mengatur keuangan keluarga kini harus menghadapi tantangan berat ketika pendapatan suami sebagai nelayan mengalami penurunan.
Perempuan Pulau Menanggung Beban Ganda
Bagi perempuan Masalembu, laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga penopang keberlangsungan keluarga. Mereka ikut berada dalam rantai ekonomi perikanan, mulai dari menjual ikan di pasar hingga memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Namun, peran mereka sering kali belum mendapatkan pengakuan yang layak sebagai bagian dari sektor perikanan.
Di tengah kondisi hasil laut yang semakin tidak menentu, perempuan menjadi pihak yang harus mencari cara agar kebutuhan pangan keluarga tetap berjalan. Terlebih, harga kebutuhan pokok di wilayah kepulauan yang bergantung pada distribusi dari luar daerah turut mengalami kenaikan.
Melli Wulandari, salah satu perempuan nelayan sekaligus pedagang ikan di Pasar Masalembu, mengungkapkan dampak kerusakan laut sangat dirasakan oleh keluarganya.
“Bagi perempuan seperti saya, dampaknya sangat terasa kalau laut rusak. Kalau laut rusak, ikan berkurang bahkan bisa tidak ada. Pendapatan suami turun, sementara harga kebutuhan sehari-hari di pulau terus naik,” ujar Melli.
Menurutnya, kondisi laut yang semakin sulit tidak hanya berpengaruh pada nelayan, tetapi juga mengancam kehidupan generasi berikutnya yang masih bergantung pada hasil laut.
Harapan Laut Kembali Terjaga
Melalui momentum tradisi Rokat Tase’ (petik laut) yang digelar masyarakat Masalembu, kelompok perempuan nelayan berharap kelestarian laut kembali menjadi perhatian bersama.
Mereka mendorong adanya pengawasan lebih ketat serta penegakan aturan terhadap praktik yang dapat merusak ekosistem laut, agar sumber daya perikanan tetap tersedia bagi masyarakat.
“Karena itu saya berharap laut kita tetap dijaga, supaya laut bisa terus memberikan manfaat besar bagi kita semua, termasuk anak cucu kita nanti,” pungkas Melli. (*)
Penulis : Imamudin
Editor : Mam














Komentar