Bos Nvidia: Era AI Justru Emas bagi Tukang Ledeng dan Tukang Listrik, Gaji Bisa Tembus Enam Digit
SWISS | Di tengah kekhawatiran global bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggusur jutaan lapangan kerja, CEO Nvidia Jensen Huang justru menyampaikan pandangan yang berlawanan. Menurutnya, era AI adalah masa keemasan bagi pekerja manual seperti tukang ledeng, tukang listrik, hingga tukang kayu.
Pernyataan optimistis itu disampaikan Huang saat berbicara dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Ia menilai lonjakan investasi triliunan dolar di sektor kecerdasan buatan tidak hanya menguntungkan pengembang perangkat lunak, tetapi juga akan membuka peluang besar bagi tenaga kerja terampil di sektor konstruksi dan infrastruktur.
“Ini adalah waktu yang tepat bagi para pekerja manual,” ujar Huang. Menurutnya, ledakan AI mendorong kebutuhan besar akan pembangunan pusat data dan fasilitas pendukung, yang pada akhirnya membutuhkan banyak tenaga tukang listrik, tukang ledeng, dan pekerja konstruksi lainnya.
Huang bahkan menyebut fenomena ini sebagai “proyek konstruksi infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia”, mengingat masifnya pembangunan pusat data dan pabrik chip di berbagai negara.
Gaji Enam Digit Tanpa Gelar PhD
Salah satu poin paling mencolok dari pernyataan Huang adalah soal pendapatan. Ia mengungkapkan bahwa di Amerika Serikat terjadi lonjakan tajam permintaan tenaga kerja manual yang berkaitan langsung dengan pembangunan infrastruktur AI.
Akibatnya, tingkat gaji meningkat drastis, bahkan dalam beberapa kasus hampir berlipat ganda. Pekerja yang terlibat dalam pembangunan pabrik chip dan pusat data AI kini berpeluang memperoleh gaji enam digit (ratusan ribu dolar per tahun), di tengah kelangkaan tenaga kerja terampil di sektor tersebut.
Dalam dialog dengan CEO BlackRock Larry Fink, Huang menegaskan bahwa kesejahteraan tidak harus ditempuh melalui jalur akademik tinggi.
“Semua orang bisa hidup layak. Anda tidak perlu gelar PhD di ilmu komputer untuk melakukannya,” tegasnya.
Pekerjaan Manual Dinilai Aman dari AI
Selain soal penghasilan, Huang juga menekankan keamanan profesi manual di tengah laju otomatisasi. Ia menyebut pekerja di sektor konstruksi, kelistrikan, dan perpipaan relatif aman dari ancaman AI.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan pakar AI ternama Geoffrey Hinton, yang sebelumnya menyebut bahwa pekerjaan manual akan bertahan lebih lama karena mesin membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk meniru ketangkasan fisik dan fleksibilitas manusia.
Di tengah narasi suram tentang hilangnya pekerjaan akibat AI, pernyataan Jensen Huang memberi sudut pandang baru: revolusi teknologi justru bisa menjadi peluang besar bagi mereka yang bekerja dengan tangan dan keahlian praktis. (*)



