EJABERITA.CO | Bangkalan — Robohnya bangunan SDN Konang 4 di Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan, memicu sorotan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) STKIP PGRI Bangkalan. Organisasi mahasiswa itu mendesak pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi infrastruktur pendidikan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Presiden Mahasiswa STKIP PGRI Bangkalan, Abdur Rohman atau Aab, menilai ambruknya bangunan sekolah tidak dapat dianggap sebagai musibah semata. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan masih lemahnya perencanaan, pengawasan, dan komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan peserta didik.
“Bangunan sekolah yang ambruk tidak boleh dipandang sebagai musibah semata. Peristiwa ini merupakan konsekuensi dari lemahnya perencanaan, pengawasan, dan keberpihakan pemerintah terhadap kualitas layanan pendidikan. Ketika peserta didik harus belajar di bangunan yang mengancam keselamatan mereka, sesungguhnya negara sedang gagal memenuhi mandat konstitusionalnya untuk menjamin hak memperoleh pendidikan yang layak,” ujar Aab.
Ia mengatakan kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari angka partisipasi sekolah, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menyediakan fasilitas belajar yang aman, layak, dan manusiawi.
Menurut Aab, pemerintah seharusnya bertindak sebelum bangunan sekolah berada dalam kondisi membahayakan.
“Keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas, bukan sekadar respons setelah terjadi kerusakan. Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah hadir secara preventif, bukan reaktif,” katanya.
Bangunan SDN Konang 4 roboh pada Kamis (30/7/2026). Untuk menghindari risiko yang lebih besar, pihak sekolah memutuskan memulangkan seluruh siswa lebih awal.
Guru SDN Konang 4, Abdul Aziz, mengatakan keputusan tersebut diambil sekitar pukul 09.30 WIB setelah melihat kondisi bangunan yang dinilai membahayakan keselamatan siswa.
“Sekitar pukul 09.30 WIB siswa kami pulangkan karena khawatir mereka bermain di sekitar bangunan,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Menanggapi insiden itu, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Ali Yusri, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung lokasi kejadian dan melaporkan kondisi sekolah kepada Bupati Bangkalan serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Ali menjelaskan SDN Konang 4 sebenarnya telah diusulkan untuk memperoleh program revitalisasi melalui proposal yang diajukan sejak Juni 2026 dan telah ditandatangani Bupati Bangkalan. Namun, sekolah tersebut belum masuk dalam daftar penerima bantuan revitalisasi tahap pertama.
“Pada tahap pertama bulan Juli kemarin, Kabupaten Bangkalan memperoleh program revitalisasi untuk 40 sekolah dasar. Namun SDN Konang 4 belum terakomodasi,” kata Ali.
BEM KM STKIP PGRI Bangkalan menilai kejadian tersebut harus menjadi momentum pembenahan sistem pemetaan kerusakan sekolah dan penentuan skala prioritas rehabilitasi bangunan pendidikan di Kabupaten Bangkalan.
Mereka mendesak pemerintah daerah bersama pemerintah pusat segera mempercepat rehabilitasi SDN Konang 4 sekaligus melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh bangunan sekolah yang berpotensi membahayakan keselamatan peserta didik.
Menurut BEM, keterlambatan penyediaan fasilitas pendidikan yang layak tidak hanya menghambat proses belajar mengajar, tetapi juga berisiko mengancam keselamatan siswa. Karena itu, pemerintah diminta memastikan setiap sekolah memiliki sarana dan prasarana yang aman sebagai bagian dari pemenuhan hak konstitusional warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.(*)
Editor : Arfa















Komentar