
EJABERITA.CO | BANGKALAN – Pemandangan memprihatinkan tersaji di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tlomar 2, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Di tengah gaung modernisasi pendidikan, para siswa di sekolah ini justru harus berteman dengan debu dan batu kerikil setiap harinya akibat gedung sekolah yang sama sekali tidak memiliki lantai keramik.
Sejak dibangun puluhan tahun silam, sekolah yang terletak di pelosok Madura ini berdiri seadanya. Kondisinya berbanding terbalik dengan fasilitas pendidikan di area perkotaan yang serba lengkap.
Pantauan di lokasi menunjukkan, sekolah yang berdiri di atas tanah pecaton (inventaris desa) ini hanya memiliki satu gedung yang disekat menjadi tiga ruang kelas. Sekat tersebut digunakan secara paksa untuk memisahkan proses belajar mengajar siswa kelas I hingga kelas VI.
Mirisnya, dari tiga ruangan yang ada, hanya dua kelas yang bisa digunakan secara aktif dengan pintu pemisah yang sudah rapuh. Tak hanya lantai yang beralaskan tanah liat, bangku dan meja belajar para siswa pun tampak reot dan jumlahnya sangat terbatas.
Salah satu siswa kelas VI, Zaenab Rosyada, mengaku kondisi meja belajar yang tebal dengan debu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Sejak pertama kali masuk di kelas I, ia sudah terbiasa menulis di atas lantai tanah.
”Biasanya bangku ada debu, dan lantai tanah banyak batu-batuan,” tutur Zaenab polos saat ditemui di sela-sela kegiatannya.
Kendati harus menuntut ilmu dengan segala keterbatasan, semangat Zaenab tidak surut. Ia menaruh harapan besar agar pemerintah daerah terketuk hatinya untuk segera memperbaiki sekolahnya.
”Harapan saya, semoga sekolah ini cepat dibangun,” harapnya.
Setali tiga uang, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Tlomar 2, Okta Tricahyana, membenarkan bahwa potret buram pendidikan ini sudah berlangsung lama. Kondisi ini bahkan sudah ia jumpai sejak pertama kali bertugas di sekolah tersebut pada tahun 2015 lalu.
”Bisa dilihat sendiri, kondisi sekolah ini memang sudah tidak ada lantai dan atapnya sebagian sudah anjlok. Banyak bangunan yang rusak, terutama bagian jendela dan atap kelas,” beber Okta Rabu (17/6/2026).
Okta menambahkan, pihak sekolah sebenarnya tidak tinggal diam. Upaya mengajukan bantuan revitalisasi fisik ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan sudah berulang kali dilakukan. Namun sayang, pengajuan tersebut selalu mentok pada persoalan administratif status kepemilikan lahan.
Selain bangunan yang nyaris roboh, fasilitas dasar saniter pun nihil di sekolah ini.
”Sekolah ini juga sama sekali tidak memiliki fasilitas penunjang seperti toilet siswa dan ruang perpustakaan,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Imbas dari sarana prasarana yang tidak layak ini, tingkat kepercayaan warga sekitar untuk menyekolahkan anaknya di SDN Tlomar 2 merosot tajam. Mayoritas wali murid memilih memindahkan anak mereka ke sekolah lain yang dinilai lebih aman secara struktur bangunan.
Saat ini, jumlah murid yang tersisa di SDN Tlomar 2 hanya tinggal 50 anak, dengan rata-rata bangku kelas hanya diisi oleh 7 hingga 10 siswa saja.
Pihak sekolah sangat berharap Pemkab Bangkalan beserta instansi terkait bisa segera duduk bersama mencari celah hukum dan solusi administratif guna merenovasi sekolah tersebut. Menurut Okta, urusan ini bukan lagi sekadar kenyamanan, melainkan sudah menyangkut keselamatan nyawa generasi penerus bangsa.
”Semoga cepat diberi bantuan demi kenyamanan dan keselamatan siswa. Bagaimanapun, warga di sekitar sini sangat membutuhkan fasilitas sekolah yang layak,” pungkas Okta. (*)














Komentar