Opini

Anak Kemarin Sore yang Terjerumus di Dunia Politik

BANGKALAN | Dulu, udara subuh terasa sangat sejuk—tanpa napas kemunafikan, tanpa trik, tanpa kepentingan tersembunyi. Udara yang jujur. Kini, subuh itu berubah. Penuh siasat, penuh senyum palsu, penuh kepura-puraan yang dibungkus rapi dengan kata-kata manis.

Ternyata bocah kemarin sore yang besar di Madura paling barat itu kini benar-benar masuk ke dunia politik. Dunia yang dulu didambakan—yang dikira ladang pengabdian—ternyata adalah arena trik dan intrik.

Kaget? Iya.

Senang? Iya.

Bangga? Iya.

Namun semua itu rupanya fana. Manisnya dunia politik hanya bertahan tiga bulan. Selebihnya adalah ilusi panjang yang harus dituntaskan selama satu periode penuh.

Semua bermula dari Pemilu 2024.

Tahun ketika nama mulai disebut-sebut.

Tahun ketika senyum terasa lebih ramai dari biasanya.

Tahun ketika janji beterbangan seperti baliho di pinggir jalan.

Mau bagaimana lagi? Masak iya harus dilepas. Perjuangan mencari suara dijalani hampir satu tahun penuh. Pagi hingga malam, dari rumah ke rumah, dari gang ke gang. Menata dan membangun kepercayaan bukan perkara mudah. Kadang diterima dengan hangat, kadang dicurigai, kadang pintu sudah ditutup sebelum sempat menjelaskan niat.

Ada hari ketika subuh belum benar-benar selesai, langkah sudah dimulai. Ada malam ketika tubuh ingin roboh, tetapi pikiran dipaksa tetap tegak. Semua itu dijalani bersama ayahnya.

Ayah yang seharusnya, di usia setengah abad lebih, sudah duduk tenang di teras rumah—menikmati kopi dan udara jujur tanpa kemunafikan. Namun lelaki paruh baya itu memilih ikut berjalan. Langkahnya pelan, punggungnya tak lagi tegak. Lelah sering ia sembunyikan di depan warga. Ia tetap tersenyum, sementara di belakang menahan sakit.

Itulah alasan bocah kemarin sore itu bertahan.

Bukan karena dunia politik itu indah,

melainkan karena perjuangan tidak pantas ditinggalkan di tengah jalan.

Dalam perjalanan Pemilu 2024 itu, ia mulai mengenal manusia dengan wajah aslinya.

Ada yang tulus, tanpa pamrih.

Ada yang munafik, ramah hanya saat butuh.

Ada yang puitis, pandai merangkai kata.

Dan ada yang paling berbahaya: mereka yang gemar mengadu domba.

Adu Domba: Strategi Tua dalam Politik Baru

Adu domba bukan sekadar kesalahpahaman akibat perbedaan pendapat. Ia adalah kerja sadar—dirancang, dipelihara, dan sering dijalankan dengan senyum paling ramah. Adu domba bekerja dengan cara paling licik: memecah sebelum menyerang, meretakkan sebelum merobohkan.

Ia dimulai dari cerita kecil yang dipelintir, disampaikan setengah, lalu disebarkan kepada pihak yang tepat. Dari sana, kecurigaan tumbuh perlahan. Bukan dengan ledakan, melainkan dengan bisikan. Bukan dengan perlawanan terbuka, tetapi dengan keraguan yang sengaja ditanamkan.

Dalam politik, adu domba menjadi senjata karena ia murah, efektif, dan jarang meninggalkan jejak. Tidak perlu kekuatan besar—cukup menguasai cerita. Tidak perlu program—cukup memainkan emosi. Korbannya bukan hanya individu, tetapi kebersamaan itu sendiri.

Yang paling menyedihkan, adu domba sering menjebak mereka yang sejatinya berada di barisan yang sama. Mereka yang seharusnya saling menjaga justru saling mencurigai. Energi habis untuk bertikai ke dalam, sementara tujuan bersama perlahan dilupakan.

Dampaknya jauh lebih besar dari sekadar konflik internal. Ketika barisan pecah, kepercayaan publik runtuh. Orang-orang yang berharap pada perubahan justru menjadi korban. Politik kehilangan maknanya sebagai alat pengabdian, dan berubah menjadi arena saling menjatuhkan.

Ironisnya, adu domba tak pernah benar-benar memenangkan siapa pun. Mereka yang merasa diuntungkan hari ini, sering kali menjadi korban esok hari. Sebab politik yang dibangun di atas pecahan kebersamaan, pada akhirnya akan runtuh oleh caranya sendiri.

Sejak Pemilu 2024 itu, bocah kemarin sore itu mengerti:

bahwa politik bukan semata soal menang atau kalah,

melainkan tentang siapa yang sanggup tetap waras

ketika kebersamaan sengaja dipecah oleh adu domba kepentingan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *