Langkah Pelan Nenek Supiyah Demi Melihat Dunia Lebih Jelas
BANGKALAN | Pagi itu, langkah Nenek Supiyah (78) tampak pelan namun penuh tekad. Dengan pakaian sederhana dan kerudung lusuh yang setia menutup kepalanya, ia berangkat dari desanya di wilayah Kecamatan Geger menuju Desa Kombangan, lokasi digelarnya pemeriksaan mata gratis. Jarak yang tidak dekat serta kondisi tubuh yang renta tak menyurutkan niatnya.
Bagi Nenek Supiyah, kesempatan itu sangat berharga. Sudah lama penglihatannya mulai kabur. Aktivitas sehari-hari, seperti berjalan ke kebun kecil di belakang rumah atau sekadar mengenali wajah cucunya, kini terasa semakin sulit. Namun keterbatasan biaya membuatnya terus menunda untuk memeriksakan kondisi matanya.
Harapan itu akhirnya datang ketika ia mendengar kabar adanya layanan pengobatan dan pemeriksaan mata gratis yang digelar oleh Anggota DPRD Kabupaten Bangkalan, Moh. Syukur, di Desa Kombangan, Kecamatan Geger.
“Saya ingin mata saya bisa agak terang lagi,” ucap Nenek Supiyah lirih sambil menunggu giliran pemeriksaan. Selasa, 06/01/2026).
Dengan bantuan keluarga dan warga sekitar, Nenek Supiyah akhirnya tiba di lokasi kegiatan. Di sana, puluhan warga lain—mayoritas lansia—tampak mengantre dengan wajah penuh harap. Pemeriksaan mata gratis tersebut menjadi angin segar bagi mereka yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Moh. Syukur mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya bagi para lansia dan warga kurang mampu yang membutuhkan perhatian lebih dalam bidang kesehatan.
“Kami ingin kegiatan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama para lansia yang memiliki keterbatasan akses dan biaya,” ujar Moh. Syukur.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan sosial ini bekerja sama dengan Klinik Mata Utama (KMU) agar pemeriksaan dilakukan secara profesional dan sesuai standar medis.
Bagi Nenek Supiyah, hasil pemeriksaan hari itu bukan sekadar soal diagnosis mata. Lebih dari itu, ia merasa diperhatikan dan dihargai. Ada kebahagiaan sederhana ketika seseorang peduli pada kondisi yang selama ini ia pendam dalam diam.
“Saya senang bisa diperiksa. Terima kasih sudah mau membantu orang tua seperti saya,” tuturnya dengan senyum tipis.
Langkah Nenek Supiyah mungkin pelan, namun perjalanannya hari itu menyimpan makna besar—tentang harapan, kepedulian, dan keinginan sederhana seorang nenek untuk kembali melihat dunia dengan lebih jelas.





