EJABERITA.CO | BANGKALAN – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menunjukkan perannya sebagai kampus yang tak hanya berorientasi akademik, tetapi juga hadir untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Melalui pengukuhan empat guru besar baru, UTM membawa beragam gagasan strategis yang menyentuh langsung kehidupan rakyat, khususnya di Madura.
Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., menegaskan bahwa gelar profesor bukan sekadar capaian akademik, melainkan amanah besar untuk memberi manfaat luas.
“Gelar profesor adalah tanggung jawab besar. Kinerjanya harus melompat lebih tinggi dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Rabu, (22/04/2016).
Empat guru besar yang dikukuhkan hadir dengan fokus riset yang beragam, mulai dari isu tata kelola pertambangan, pertanian lahan kering, ekologi laut, hingga industri perkapalan—semuanya beririsan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Soroti Korupsi Perizinan Tambang
Prof. Dr. Eny Suastuti, S.H., M.Hum. mengangkat isu krusial terkait korupsi dalam pengelolaan perizinan pertambangan. Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi celah utama terjadinya penyalahgunaan wewenang.
Menurutnya, proses perizinan yang seharusnya menjadi alat pengendali justru kerap dimanfaatkan sebagai ruang praktik suap dan penyimpangan kebijakan.
“Tanpa pengawasan yang kuat, potensi penyimpangan akan terus terjadi. Padahal, sektor ini menyangkut kepentingan publik,” tegasnya.
Ia mendorong penerapan prinsip good governance dan asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB) agar pengelolaan sumber daya alam berjalan transparan dan akuntabel.
Harapan Baru untuk Pertanian Madura
Di bidang pertanian, Prof. Dr. Elys Fauziyah, S.P., M.P. menyoroti rendahnya produktivitas lahan kering di Madura. Ia menyebut, hasil panen jagung masih jauh di bawah rata-rata Jawa Timur.
Namun, ia optimistis kondisi tersebut bisa diubah melalui inovasi.
“Dengan penggunaan benih unggul dan teknologi budidaya, produktivitas bisa meningkat signifikan, bahkan mencapai 6 hingga 8 ton per hektare,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa transformasi pertanian berbasis teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Menjaga Laut dari Makhluk Terkecil
Sementara itu, Prof. Insafitri, S.T., M.Sc., Ph.D. mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut melalui pendekatan mikrobiologis.
Lewat konsep “Samudra Harmoni”, ia menjelaskan bahwa organisme kecil seperti ostracoda memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas lingkungan laut.
“Keberagaman hayati bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang keseimbangan dan keteraturan,” ujarnya.
Penelitiannya menegaskan bahwa perlindungan ekosistem laut harus dimulai dari pemahaman terhadap elemen paling kecil sekalipun.
Dorong Industri Perkapalan Lebih Kompetitif
Di sektor teknik, Prof. Dr. Ir. Mohamad Imron Mustajib, S.T., M.T. menyoroti pentingnya inovasi dalam industri perkapalan nasional.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada kekuatan transportasi laut. Ia menilai, penguatan sistem manufaktur kapal menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing.
“Industri perkapalan adalah tulang punggung konektivitas nasional. Inovasi menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sistem manufaktur terintegrasi yang mencakup desain, kebutuhan pasar, hingga kualitas produksi.
Kampus Hadir untuk Solusi Nyata
Pengukuhan empat guru besar ini menjadi bukti bahwa UTM terus bergerak menjadi kampus yang dekat dengan masyarakat. Tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga solusi nyata bagi berbagai persoalan daerah dan nasional.
Dengan kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan industri, hasil riset diharapkan mampu diimplementasikan secara langsung demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
UTM pun menegaskan satu pesan penting: kampus bukan sekadar tempat belajar, melainkan bagian dari solusi bagi kehidupan rakyat.(*)
Editor : Arfa

















Komentar